<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Erotis</title>
	<atom:link href="http://cerita-erotis.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita-erotis.com</link>
	<description>Just another Erotis Story</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Jan 2010 19:53:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mila Yang Aduhai</title>
		<link>http://cerita-erotis.com/mila-yang-aduhai.html</link>
		<comments>http://cerita-erotis.com/mila-yang-aduhai.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 17:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita-erotis.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari  Suami Ku pulang dari ngobrol dengan tetangga-tetangga ku di pos satpam. Dia bilang kalau pak Bowo menawarkan pekerjaan untuk Priska. Aku heran, kok buat Priska? Memang dia gak tau kalau Priska sudah punya usaha sendiri walau kecil2an. Suamiku bilang, karena pekerjaannya Cuma sekretaris merangkap admin gak sibuk-sibuk banget, dan itu untuk kantor barunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari  Suami Ku pulang dari ngobrol dengan tetangga-tetangga ku di pos satpam. Dia bilang kalau pak Bowo menawarkan pekerjaan untuk Priska. Aku heran, kok buat Priska? Memang dia gak tau kalau Priska sudah punya usaha sendiri walau kecil2an. Suamiku bilang, karena pekerjaannya Cuma sekretaris merangkap admin gak sibuk-sibuk banget, dan itu untuk kantor barunya di Menara Imperium Kuningan. Jadi pak Bowo cukup maklum kalau Priska gak bisa full, Cuma dia perlu orang yang bisa dipercaya pegang uang, dan boleh saja kalau Priska sambil tetap jualan. Wah kalau gitu kenapa gak aku saja tanyaku pada suami Ku. Mau nggak kalau aku ngantornya sambil ngasuh anak? Suamiku hanya tertawa, kalau gitu kenapa gak istrinya kata suamiku.<br />
<span id="more-33"></span><br />
“Tawarin aja ke Priska bunda, siapa tau dia mau. Nih kartu namanya pak Bowo”<br />
Aku segera menelopon Priska. Tapi Priska tidak mau begitu aku menanyakan hal ini. Mungkin dia masih belum mau akrab lagi denganku. Yah setelah kejadian itu memang aku dan Priska jarang berbicara. Dan sudah 2 bulan ini Priska tidak ke Jakarta.<br />
“Mas, Priska ga mau. Coba tanya ke pak bowo, kalau aku boleh nggak?”<br />
“Ya, bunda tanya sama bu Bowo aja. Aku sih boleh aja” Jawab suamiku.<br />
Aku memang pernah bekerja di sebuah perusahaan asing , dan terakhir sebelum menikah aku pun pernah menjadi pegawai BUMN. Dan sekarang Ijazah S1 HI Ku di Unpad nganggur begitu saja. Aku ingin punya aktivitas, dipikir-pikir mungkin ada baiknya dari pada di rumah suka mikir yang nggak-nggak kalau bengong. Akhirnya aku bilang ke suamiku niatku itu. Dan dia setuju saja “Tapi bilang ke bu Bowo ya”.</p>
<p>Keesokan harinya aku ke rumah pak Bowo. Ternyata bu Bowo tidak ada di rumah. Ya sudah, akhirnya aku pikir kenapa aku tidak ke pak bowo langsung saja ya?</p>
<p>Sesampai di kantor pak bowo, aku mengetuk pintu kaca kantornya namun tak ada jawaban. Akhirnya aku menelepon nomor HP pak bowo yang ada di kartu namanya. Pak bowo keluar dari ruangannya dan membuka pintu. “ Eh ibu, mau bawa CV nya Priska ya” Aku agak kecewa dengan tanggapan pak bowo. “Mari masuk bu, maaf di kantor ini belum ada siapa-siapa. Sebetulnya ada OB. Tapi dia sedang ke kantor notaris.” Maaf Bu di ruangan saya saja” Setelah diruangannya dan memberikan CV, baru aku menjelaskan bahwa itu CV ku bukan CV Priska, dan aku pun bilang kalau Priska sudah punya usaha sendiri dan kemarin waktu saya tawarkan dia juga tidak mau.</p>
<p>Wajah Pak Bowo menjadi serius, dia menjelaskan kalau memang dia insist Priska. Apalagi untuk sekretaris. Aku tidak mengerti kenapa harus Priska, dan saya mencoba menjelaskan bahwa akupun pernah bekerja dan untuk pekerjaan sekretaris pasti aku bisa. Pak Bowo tersenyum. “Priska benar-benar gak mau ya mbak?” aku mengangguk mengiyakan. “Sayang padahal lumayan kalau punya sekretaris seperti dia, kalau mbak saya nggak mau, kalau ada apa-apa saya kan nggak enak sama suami mbak. Sekretaris saya di kantor satunya juga single, kalau harus ke luar kota nganter saya kan nggak enak. Kalau sama mbak kan nanti istri saya tau saya keluar kotanya gak sendirian.”</p>
<p>“Oh gitu” sahutku. Ahh dasar laki-laki batinku. “Jadi kalau dengan Priska bapak bakalan keluar kota dengan dia?” tanyaku. Pak Bowo tersenyum. “Kok bapak tau dia bakalan mau. Pernah ngobrol ya?”<br />
“Mbak Mila, maaf ya? Saya pernah mergokin dia pacaran di mobil. Dia sedang begini sama pacarnya” kata pak Bowo sambil memeragakan gerakan blow job. “Mobilnya parker di depan rumah saya, jam 1 malem gitu. Sempat saya mau bawa ke pos satpam tapi yaah karena dia waktu itu janji mau melakukan apa saja asal gak dilaporin ya sudah gak saya perkarakan. Jadi ya tolong bilang saja sama Priska, kalau saya sebetulnya nawarin ini sekalian nagih janji. Maaf ya mbak, kalau saya blak2an. Mbak beda sama dia, mbak kan alim, pasti tau lah kalau adiknya begitu harusnya bagaimana. Maaf juga kalau kita laki2 ya begini ini”. Pak Bowo bercerita lebih panjang lagi yang pada intinya, dia memang suka melakukan hal itu dengan sekretarisnya, dan sebetulnya dia suka sama Priska yang cantik tapi kalau Priska tidak memegang janji ya jangan salahkan dia kalau Pak Bowo akhirnya membocorkan hal ini ke aku. Dia minta aku juga gakk cerita ke istrinya, karena dia juga gak akan melaporkan hal ini ke warga lainnya. Saya bilang ya sebetulnya kalau ditempat saya kerja dulu sih memang aku cukup tau kalau suka ada office affair apa lagi antara boss dengan anak buah yang wanita.</p>
<p>“Yah pokoknya gitu Mbak, biar nanti saya cari yang lainnya aja. Kalau Mbak mah gak lah. Maaf ya saya nolaknya blak2an. Saya memang gitu orangnya. Semua yang jadi anak buah saya, harus orang yang bisa jaga rahasia bosnya. Makanya saya gak pake supir mbak. Dan istri saya juga gak ada yang kenal sama anak buah saya satu pun. Oh ya, si cantik itu kemana kok sudah lama gak main ke rumah Mbak?”.</p>
<p>“gak tau pak, mungkin malu sama bapak.”<br />
“Ya sudah, bilang sama dia ya kalau saya sudah bilang juga sama Mbak. Tapi yah sekarang mudah mudahan dia gak pacaran gitu lagi.”</p>
<p>Ya sudah aku pun berpamitan pulang. Di jalan aku memikirkan apa yg baru saja terjadi. Ah si Priska ada2 saja dalam hatiku. Dan Pak Bowo ternyata dendam juga Priskanya gak mau. Aku membayangkan bagaimana kecewanya pak Bowo tidak bisa mendapatkan jatah dari Priska. Lagian Priska sempat2nya janji yang nggak2 sama Pak Bowo. Yah mungkin dia pikir supaya jangan sampai dilaporin Satpam waktu itu. Tapi aku juga kepikiran sama tingkah laku Pak Bowo yang ternyata badung juga. Pak Bowo lebih tua dari suamiku umurnya 40an dan pantas sih nakal2nya cowok dalam hatiku. Pasti sekretarisnya sudah jebol sama Pak Bowo, apalagi di ajak pergi keluar kota. Jadi selama ini Pak Bowo suka memperhatikan Priska rupanya. Apa dia gak pernah memperhatikan aku ya? Padahal dibandingkan Priska, banyak yang bilang aku lebih cantik dan badanku jauh lebih sexy. Kembali pikiran aku jadi nakal. Dasar memang aku perempuan murahan yang kegatelan batinku. Ehh jangan2 dia ngomong blak2an tadi sengaja nyoba aku kali ya. Belum tau dia bahwa aku sebetulnya bagaimana.</p>
<p>Pikiran itu terus menggangguku. Sampai di rumahpun aku masih yang tergoda untuk ngtest pak Bowo. Ha ha ha. Gimana ya kalau aku affair sama tetangga. Aduuuuh pokoknya aku jadi error. Waktu suamiku pulang, dan bertanya bagaimana sudah bicara dengan bu Bowo. Aku malah bilang aku mau coba ngelamar dan wawancara besok. Padahal sudah. Suamiku bilang enak juga kalau aku ada kerjaan tapi yang tidak mengganggu aktivitasku mengawasi anakku. Kalau diterima kerja suamiku berencana mencari supir untuk mengantarkan anakku dan aku kerja. Aku bilang aku kerja kan bisa bareng pak Bowo. Suamiku manggut2. Malamnya aku malah berpikir yang tidak2 tentang Pak Bowo, dan bagaimana rasanya member sekedar blow job padanya. Ahh biarin aku datengin saja pak bowo besok pagi pikirku.</p>
<p>Anakku sudah kelas 1 SD sekarang. Dan disekolah ini dia masuk jam 7.30 pulang jam 3. Pagi itu jam 7 pun aku sudah sampe di sekolah anakku dan segera ke kantor pak Bowo. Hari itu seperti halnya orang mau interview aku menggunakan baju lengan panjang putih yang dulu sering aku gunakan kerja. Cuma sengaja aku tak menggunakan peniti tambahan yang biasanya aku pake, sehingga kancing bajuku agak renggang dan belahan dadaku sedikit kelihatan. Biar pak Bowo ngerti maksudku dalam hatiku. Lainnya aku pake jilbab hitam dan rok panjang hitam.</p>
<p>Jam 8 aku sudah sampe di kantor pak Bowo. Yang ada Cuma OBnya yang sedang membersihkan kantor. Pak Bowo baru datang ½ jam kemudian. Dia kaget melihatku datang. “Loh Mbak Mila lagi? Kenapa Mbak?” “Ya saya sudah cukup mengerti pekerjaannya pak, mungkin di interview atau di test dulu saya bersedia kok” sahut aku sambil tersenyum. Pak Bowo memperhatikan aku dan kelihatan sekali dia memperhatikaan dadaku.</p>
<p>“Oh bagus deh, kalau siap di test mbak. Say bener2 test kemampuannya ya mbak” “Iya Pak” sahutku sambil mengikuti pak bowo ke ruangannya. Sesampai di ruangannya, pak bowo memanggil OB nya untuk membersihkan ruang meeting, karena dia mau meeting di sana katanya. Kemudian dia menelepon beberapa orang sambil membuka2 CV ku. Selesai menelepon dia keluar ruangan dan memerintahkan Pak Ari OBnya untuk mengantarkan dokumen ke rumah. Ahh pandai juga nih boss batinku. Setelah yakin pak Ari pulang. Pak bowo kembali keruangan. “Jadi sudah ngerti ya Mbak, kalau mau jadi sekretaris saya bagaimana?” saya mengangguk. “Nggak nyesel kan punya boss seperti saya?” tanyanya lagi. “Nggak pak, asal pak bowo nggak nyesel punya anak buah sepertu saya” jawabku. “Makanya saya test dulu ya? Ok coba berdiri Mbak!” Pak Bowo memperhatikan aku sambil mengitari tubuhku. “Wahh ini boleh juga mbak” Pak Bowo mencoba mengomentari dadaku. Cek cek ombak nih orang. “Maaf pak, ini baju putih satu2nya waktu saya kerja dulu. Jadi saya gak sadar kalau sudah kekecilan. Kalau diterima saya beli lagi baju putihnya”.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-38" style="margin: 5px;" title="ceritaerotis.com" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/12/979_off01-300x225.jpg" alt="cerita-erotis.com" width="300" height="225" />“Bukan bajunya kok, orang dalemnya Mbak”.<br />
“Panggil saya Mila saja pak” sahutku.</p>
<p>Waktu pak Bowo di belakangku dia tanpa ragu2 meremas pantatku.</p>
<p>“Hmmm masih kenceng nih Mil”<br />
“Iya pak”<br />
Pak Bowo kembali berdiri di depanku, kali ini dia meraba2 dadaku.<br />
” Hmmm keren juga” Pak Bowo dengan terampil membuka kancing bajuku, walau tidak melepas bajuku. Pak Bowo juga membuka tali BHku, dan menyingkapnya. “Ohh init oh modalmu untuk jadi sekretarisku. Keren Mil, bagus banget. Coba duduk Mbak Mila” Aku pun duduk sementara Pak Bowo berdiri mendekati aku. “Coba kalau sekretaris yang baik kira2 gimana sama bossnya kalau begini”. Aku mengerti maksudnya. Aku membuka sabuknya retsleting celananya dan membuka celana dalamnya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-39" style="margin: 5px;" title="0fc_off07" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/12/0fc_off07-300x225.jpg" alt="0fc_off07" width="300" height="225" />Nampak penisnya bergelantungan dengan sedikit tegang. Aku usap2 sebentar dan kemudian memasukkan ke mulutku sambil melihat wajah pak Bowo. Dia sedikit nyengir ketika aku mulai bergerak mundur maju. Pak Bowo mulai mendesah2 “Bagus Mil, ayo lagi” Penisnya mulai menegang. Penis pak Bowo normal2 saja, tidak sepanjang Adi, hampir sama ukurannya dengan milik si Mbah dan suamiku. Tapi diameternya agak lebih besar, dan warnanya merah muda menggemaskan. Ketika aku menjilat2 ujung penisnya Pak Bowo menggelinjang dan mengerang2.”Kamu ok juga. Hehhhhhhh” ujarnya sambil menyodokkan penisnya jauh lebih dalam. Dan setelah itu aku merasakan pennies pak Bowo menjadi sangat keras tegak ke atas, membuatku agak harus merapat agar kepalaku bisa bergerak dari arah agak ke atas. Tanganku memegang pantatnya dan kemudian kepalaku bergerak cepat. “ha ha ha, pinter kamu…. Besok kalau kamu diterima kita meeting sama sekretaris yang lainnya supaya mereka bisa seperti mu” Ujar pak Bowo sambil memegang kepalaku dengan gemas.</p>
<p>Beberapa saat aku melepaskan penisnya dari mulutku, mencoba mengambil nafas. Pak bowo melepaskan celananya yang menggantung dan dia berjalan ke kursi sofa, dia pun duduk di situ. Aku menghampirinya dan bersimpuh di depannya kemudian melanjutkan menyepongnya. Dengan begitu payu dara menempel di pahanya. Pak Bowo membelai2 kepalaku, punggungku dan kemudian berusaha membuka bajuku. Setelah bajuku terbuka dia melepaskan bra ku yang sudah ½ terbuka itu, jadi aku menghentikan sebentar menyepongku. Pak Bowo memainkan sebentar buah dadaku. Aku mengambil penisnya dan meminta pak Bowo agak maju. Aku jepit penisnya dengan buah dadaku sambil menggerak2kan dadaku. “Ohh keren, akhirnya ada juga yang bisa begini nih” ujar nya dilanjutkan dengan mendesah, dan mulai meracau. Kaki pak Bowo merangkul punggungku. “Enak sayang.” Aku kembali mengulum penisnya dan menjilat2nya. Hmmm sampai sekuat apa nih orang batinku. Cukup lama juga aku bolak balik menjilati dan menyepong sampai aku sidikit tak sabar menunggu ledakkannya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-40" style="margin: 5px;" title="1c8_off10" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/12/1c8_off10-300x225.jpg" alt="1c8_off10" width="300" height="225" />Sampai akhirnya meledak juga penis itu dimulutku. Semua spermanya tak kubiarkan meleleh keluar, dan kusapu bersih. Lagi2 aku merasakan aroma yang berbeda dari sperma ini. Rupanya tiap orang beda2, tapi yang jelas punya pak Bowo tidak terlalu menjijikan seperti punya Adi. Bahkan boleh dibilang aku agak menikmati, hingga pak Bowo berkali2 menggelinjang saat aku mencoba benar2 mencoba agar ledakkannya benar2 tuntas.</p>
<p>Pak Bowo berbaring lemas, ketika penisnya ku lepas. Aku mengambil gelas minuman dan membersihkan mulutku yang bau ludah. Aku juga membersihkan penis pak Bowo dengan tissue. Air yang sedikit tersisa di gelas aku tuangkan ke tissue dan membersihkan penis pak Bowo. Pak Bowo menciumku, sambil meremas2 payudaraku. “Sejauh ini hasil testmu bagus sayang”. Kita pun berciuman. Penis pak Bowo belum bereaksi tegang lagi. Dia bangkit, dan menggunakan celananya dan sepatunya. “Aku mau meeting dulu ya. Sebentar lagi teman2ku datang” Aku mengambil bajuku dan braku. “Coba jangan dipake dulu bajunya siapa yang suruh pake. Duduk dulu di situ” Aku kembali duduk di kursi yang tadi berhadapan dengan pak Bowo. “Coba duduknya agak maju, kursinya diatur agak kebawah. Tau kan caranya gimana? Biar toketmu gak gelantungan taroh saja di meja” Aku menuruti perintah pak Bowo. Pak bowo kembali mengamati CVku. Dia menulis2 sesuatu di CVku. “Bra mu ukuran berapa?” “34 B kadang2 C pak tergantung mereknya”. “Hmmmm keren deh toket luh, gw suka banget. Kalau kamu sedang M bisa muncrat di situ, boleh kan?” “Boleh pak” jawabku. “Kamu mau gaji berapa Mil?” Tanya pak Bowo sambil mengeluarkan kamera dari lacinya. “Terserah bapak, yang seuai saja dengan prestasi kerja saya” Pak Bowo memotret ku. “Coba pegang toketnya kaya tadi waktu ngejepit kontolku” Aku pun berpose.</p>
<p>“Kamu bersedia perjalanan ke luar kota?” “Yah itu yang jadi kendala saya pak, kayanya gak mungkin kalau keluar kota. Tapi kan bapak punya banyak sekretaris” Pak bowo mengangguk2.</p>
<p>“apa kamu bersedia ditempatkan di mana saja? Hmm maksudnya kalau kamu bersedia ngentot di mana saja?” “Maksudnya pak?”</p>
<p>“Ya kalau di kantor sih pasti harus, tapi kalau aku mau, kadang2 saya pengen di hotel, di mobil gi mana?” “Oh gak masalah pak”<br />
“Bisa jaga rahasia?” “Pastinya pak, saya juga minta bapak begitu”<br />
“Ya sudah, kamu pake baju dulu. Saya meeting coba kamu kedepan situ ya, ada computer, kamu tulis semua cerita kamu wawancara dari pertama sampai terakhir dengan detail ya” aku menurutinya. Selesai berpakaian. Pak Bowo menunjukkan meja kerjaku. Ketika aku duduk Pak Bowo merangkul aku dari belakang sambil meremas2 dadaku. Sesekali kami berciuman, dan aku sesekali memegang penisnya yang sudah agak keras lagi. Karena banyak gangguan aku kurang konsen dengan tulisanku. Sampai akhirnya beberapa orang teman pak Bowo datang. Dan mereka pun siap meeting jam 10 tepat. Pak Bowo memerintahkan aku menyiapkan minum untuk mereka.</p>
<p>Setelah mengantarkan minuman, aku kembali ke pekerjaanku. Tulisan yang anda baca ini sebagian aku tulis waktu itu. Suatu ketika pak bowo keluar ruangan menuju kamar kerjanya, dan menghampiri aku sebentar. “Ahhh ini jangan pake kata penis, apa coba ini namanya”. “Kontol ya pak?” “Iyaaah”. Dia pun kembali ke ruangannya. Tak lama dia kembali keluar ruangan dan memintaku membawa kertas dan bullpen. Aku dimintanya mencatat hasil meetingnya. Aku duduk di sebelah pak Bowo, dan selama itu pak bowo tidak pernah berlaku yang kurang ajar kepadaku. Meeting selesai jam ½ 12, teman2 pak Bowo sempat mengajak kami makan tapi pak Bowo menolak dengan alas an dia ada janji makan siang dengan yang lain. Pak Bowo berjalan bersama teman2nya keluar ruangan mengantar mereka pulang. Sepertinya dia mengantarkan sampe loby bawah. Waktu kembali dia ternyata membawa makanan. Dan dia mengajakku makan. Kami makan di meja kerjaku, sambil berbincang2 mengenai kegiatan usahanya.</p>
<p>Dia makan dengan cepat, dan setelah selesai makan dia mengambilkan minum untuk kami berdua. Dia melihat pekerjaanku, dan ngeprint hasilnya walaupun belum selesai. Dia membacanya dengan seksama 4 lembar hasil tulisanku.<br />
“Kamu punya pacar lagi sekarang?”<br />
“Nggak pak” Jawabku.<br />
“Pernah ngesex dengan lainnya juga?”<br />
“wah maaf itu pribadi pak.” Pak Bowo manggut2<br />
“Bagus, aku suka kalau kamu jujur. “ Selesai makan pak Bowo memintaku ke toilet dulu dan membeli rokok di bawah. Sekembalinya dari bawah, pak Bowo pun merokok di ruangannya. Coba buka CVmu lagi. Aku mencoba mengambil CV,<br />
“eit CVmu bukan yang itu, badanmu itu CVmu” Oooh aku baru ngerti. Aku pun membuka bajuku hingga tinggal mengenakan Bra dan celana dalam. “Coba kamu presentasikan CVmu!”<br />
“Nama saya Mila, umur 32 tahun lulusan universitas ….” “Mil, CVmu itu body lo, barang lo bukan itu” Sela pak Bowo. “Tinggi saya 168 cm, berparas hitam manis, kaki jenjang bokong aduhai dan berdada indah. Ukuran dada..”<br />
“ Apa itu dada? Mil”<br />
“Ukuran payu daraku, 34 B cukup sintal dan bisa menjepit penis ehh kontol hingga muncrat”. “Baguss ayo terus Mil”.<br />
“Hmmmm, apalagi pak?”<br />
“Prestasi mu apa, keahlian apa?” “Oh ya, saya bisa melakukan blow job, hand job dengan baik. Dijamin tidak kena gigi dan kontol yang saya sepong saya blow job sampe habis dan bersih.”<br />
Pak Bowo tertawa mendengar presentasi ku, aku pun tertawa.<br />
“Bapak sudah ya”<br />
“Lho kalau Cuma segitu masak mau saya terima” Pak Bowo berdiri, mematikan rokok dan mendekatiku. Sambil membuka Bra ku. Sambil memelukku dari belakang Pak Bowo memainkan toketku, “Gua suka banget sama toket lo, mantab. Terus apa motivasi kamu kerja di sini?”<br />
“Motivasi saya untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dan mempunyai penghasilan senndiri.”<br />
“Bukain baju saya dong. Aku menurutinya dan melucuti semua baju pak Bowo hingga telanjang bulat. “Motivasimu masak itu saja sambil memelukku dari belakang lagi mengarahkan posisi kami berpelukan kea rah lemari bukunya. Pintu lemari yang dari kaca itu bisa membuatku sedikit bercermin melihat pak Bowo kembali memelukku dari belakang. Kali ini tangannya mulai menggerayangi vaginaku.<br />
“ummm saya ingin bekerja dengan baik kepada atasan saya sebagai sekretaris pak Bowo” jawabku sedikit terengah2 karena jari2 pak Bowo mulai berusaha memasuki vaginaku.<br />
“Kamu tidak bermotivasi untuk ngentot sama aku ya” Sambil mulai memaksakan jarinya masuk ke vaginaku, sementara kontolnya sudah keras menekan pantatku.<br />
“Kan…Pak Bowo Cuma liat Priska oral sex sama pacarnya yang sudah dewasa” jawabku. Pak Bowo melepaskan pelukannya, tanpa diduga2 dia malah tertawa terbahak2. “Ohhh jadi Cuma boleh oral ya?” Aku mengangguk. “Ya sudah sini. Pak Bowo membuka celana dalamku, dan dengan cepat jongkok di depanku dan mulai menciumi vaginaku. Aku benar2 tidak menduga hal ini terjadi, karena tadinya aku berharap setelah tau bahwa aku hanya akan mempermainkan pak Bowo dalam sesi interview ini dia akan menyudahinya sampai di sini. Tapi pak Bowo dengan gesit mempermainkan lidahnya yang sudah sangat membuatku geli. Tadinya aku pikir aku bisa mempermainkan tetanggaku ini, tapi sekarang aku dibuatnya horny berat dengan permainan oralnya. Apalagi waktu dia mengangkat kaki kiriku kepundaknya sehingga dia bisa melahap vaginaku dan memainkan lidahnya. Aku tidak tahan mengerang2 kenikmatan. “Pak ….. pak sudah paaak engggghhhhh” aku terus memintanya berhenti karena rasa nikmat ini tak terbendung, dan aku malu sekali dibuatnya. Baru kali ini ada yang rela melakukan oral kepadaku, dari semua laki2 yang pernah berhubungan sex dengan aku semuanya egois. Pak Bowo terus melakukan itu hingga akhirnya ambroll pertahananku.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-41" style="margin: 5px;" title="188_off05" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/12/188_off05-300x225.jpg" alt="188_off05" width="300" height="225" />Ketika pak Bowo berdiri tangannya masih bermain di vaginaku untuk membantu proses orgasmeku hingga tuntas. Aku memeluknya erat2. Perlahan2 Pak Bowo bergerak mundur, sambil tetap memelukku. Dia mengajakku duduk di sofa yang tadi, aku memeluknya sambil duduk di pangkuan pak Bowo. Diciuminya aku, tercium bau kewanitaanku, tapi aku tidak peduli, baru kali ini aku tau bauku sendiri. Ciuman itu menjadi buas, kami bermain lidah dan kurasakan penis pak Bowo kembali mengeras.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-36" style="margin: 5px;" title="615736502-1_153lo" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/12/615736502-1_153lo-225x300.jpg" alt="ceritaerotis.com" width="225" height="300" /> Dia mengangkat pantatku dan mencoba memasukkan penis itu di vaginaku. “Pak aku gak mau…” Sahutku. Tapi pak Bowo menekan pinggangku ke bawah dengan kuat sambil kemudian menahannya. Blessss masuklah kontol itu. Aku tidak bisa meronta, karena tenaga Pak Bowo cukup kuat. Pantatku aku coba untuk naik, tapi kontol pak Bowo memburunya naik juga, membuatku mendesah2 “Pak ….ah ssshhh jangan, emmmmm sudah sudah, aku kan istri tetanggamu. Mmmmaaf aku gak bisa” Aku mencoba meronta, tapi pak Bowo merebahkanku dengan cepat dan dengan posisi penisnya masih menancap di vaginaku. Dia pun mulai menggenjotku sedikit sedikit. Penisnya makin lama makin keras, seperti waktu aku sepong tadi tampaknya. Dia masih diam tak berkata2 dan memelukku erat2, sementara tanganku memukul punggunya dan kaki menendang2 kesamping sofa berharap bisa jatuh terguling dan aku bisa lepas. Tapi cengkeraman pak Bowo cukup kuat dan akibat gerakan ku itu malah membuat penisnya makin keras lagi. Sehingga genjotan pak Bowo makin membuatku menggelinjang. Akhirnya aku merasa vaginaku benar2 penuh. Gila orang ini kontolnya keras seperti kayu, belum pernah aku merasakan seperti ini. Punya Adi walaupun panjang tapi tak sekeras ini. Setelah pak Bowo yakin penisnya siap tempur dia merenggangkan pelukannya dan tangannya bertumpu dipundakku. “Pak… sudah ya su engggghhhhhh” Pak Bowo sedikit menarik penisnya tapi rasanya di vaginaku yang baru orgasme itu luar biasa. Mataku terbelalak merasakannya begitu pak Bowo kembali memasukkan penisnya, walaupun pelan2 tapi membuatku tak sadar menggeliat punggungku naik ke atas, kepalaku menengadah.. mulutku menganga tanpa suara. Pak Bowo berkali2 melakukan itu dengan perlahan2 hingga akhirnya dia sesekali menyentakkan pantatnya. Aku pun dibuatnya melolong2. Sedikit2 walaupun agak lama vaginaku akhirnya bisa beradaptasi. Dan akhirnya aku pasrah digenjot2 dengan lancer oleh Pak Bowo.</p>
<p>Ketika aku orgasme lagi pak Bowo memberiku kesempatan menikmatinya sambil menekan dalam2 kontolnya. Aduhh rasanya aku ngawang. “Aku genjot lagi ya sayang..” Aku yang pasrah menerima ciumannya sambil membiarkan pak Bowo mengenjot lagi. Kembali pelan2 dan akhirnya cepat. Bunyi pahaku beradu dengan pahanya menutupi suaraku yang mengerang2 makin keenakan. Lagi2 aku orgasme.</p>
<p>Kali ini pak Bowo mengalungkan kakiku dipundaknya, sehingga pantatku terangkat dan kini dia menggenjotku dengan sepenuh tenaga. Aku berteriak2 merasakan ini, dan dengan cepat aku orgasme lagi tapi pak bowo tidak memberiku ampun walaupun aku sudah berteriak dengan keras. Aku merasakan ada air yang mengocor deras, aku nggak tau apa itu orgasme apa aku terkencing2 aku gak tau. Pak bowo melepaskan ku. Dia menuju mejanya dan meminum air putihnya. Dan memberiku juga seteguk air. “Pak sudah ya….” Kataku. Aku yang lemas, memohonnya untuk berhenti tapi tak kuasa saat Pak Bowo membalikkanku, dan akhirnya akupun di doggy style. Lagi2 aku gak kuat menahan serangannya. Tapi Pak bowo belum juga menyudahinya. Aku akui dia luar biasa. Setelah beberapa saat dia menjambak rambutku dari belakang sambil memukul2 pantatku dan kemudian keluar lah lahar panas itu di vaginaku. Pak bowo memelukku dari belakang sambil meremas2 dadaku.</p>
<p>Setelah beberapa lama pak bowo melepaskan aku dan kamipun tidur di sofa bersama2 berpelukan dan berciuman. Ciuman Pak Bowo hangat sekali. Dia membuka jilbabku kemudian menjilati leherku sambil memegang dadaku lagi. “Mila, jadi kamu mau kerja di sini apa nggak ?” “Aku menggelengkan kepala” Pak Bowo tersenyum. “Jadi tadinya akmu Cuma mau ngerjain aku, dan kamu pikir setelah kamu sepong ya udah selesai gitu aja?” “Iya tapi bapak tadi memperkosa aku” Dia tertawa, aku pun tertawa, menyadari bahwa akhirnya pun aku mau. Aku pun bercerita sebetulnya rencanaku Cuma membuatnya jera, tapi yahhhh aku yang salah pasang perangkap singa, akhirnya aku sendiri korbannya. “Kamu enak nggak tadi?” Aku malu dengan pertanyaan Pak Bowo dan mencubit penisnya. “Duhh kena semprot Pak?” kami tertawa terbahak2 melihat tanganku basah dengan spermanya yang masih muncrat2. Pak Bowo mengajakku duduk dan dipertontonkan penis yang tadi memperkosaku yang masih tegang dan berdenyut2. Dipeluknya aku dan didudukkannya aku dipahanya lagi, kali ini tidak menolak saat penisnya dimasukkan ke vaginaku. “Jangan dibiarin muncrat diluar ya sayang?”. “Iya pak”. “Panggil aku Mas saja ya?” aku mengangguk dan menciumi laki2 yang sudah menggagahi aku dengan benar2 gagah.<br />
“Mil……………”<br />
“Iya Mas……..”<br />
“Coba kamu goyang2 dikit” Sambil bergoyang aku tanya “Kenapa Mas?” “emmm goyanganmu enak sayang” Aku memeluknya menciumnya dan menggoyangkan pantatku.<br />
“Mas…..kok keras lagi?” “Tanggung jawab dong” aku melotot ke Mas Bowo sambil mencubitnya. Mas Bowo memainkan kedua putting susuku sambil berkata “Puasin aku sayang”</p>
<p>Aku bergoyang2 lagi. Dengan sisa tenaga yang ada. Aku teringat goyangan Lis dan mencobanya pada mas Bowo. “awww pinterjuga nih sayangnya aku. Apa itu Mil?” Aku mulai goyang ngebor lagi. Mas Bowo menggigit bibirnya sendiri dan meremas dadaku “Enak sayang…………..” mendapat pujian seperti itu aku makin semangat goyang, padahal goyang begini sebetulnya malah membuat penis mas Bowo mengaduk2 vaginaku. Aku mencoba bertahan tapi aku ambrol juga. Mas Bowo merebahkan aku, dan dengan nafas yang memburu dia pun menggenjotku lagi hingga tak lama dia pun orgasme juga.</p>
<p>Kami berciuman, aku juga menjilati Mas Bowo. Mas Bowo juga begitu dan dengan sengaja dia mencupangi leherku. Setelah cukup lama Mas Bowo bangkit. Dia mengambil tissue dan membersihkan diri. Aku berpakaian cepat2 dan memilih membersihkan di toilet saja. Ingin aku jika ada kamar mandi, kenapa gak mandi sama dia saja. Ahhh akhirnya aku begini lagi pikir ku. Ya sudah lah biarin.</p>
<p>Setelah bersih, aku kembali ke kantor, dan berniat pamit pulang. Mas Bowo mau mengantarkan aku pulang. Aku terima saja, maklum aku kelelahan. Kami menggunakan mobilku. Mas Bowo yang nyetir, dan dia cukup senang dengan kondisi mobilku yang berkaca gelap. Dia meminta aku merebahkan kepalaku di pahanya. Sehingga dia bisa nyetir sambil merogoh2 susuku. Sampai dekat sekolah anakku, jam masih menunjukkan jam 3 kuang 15 menit. Mas Bowo bilang kalau itu waktu yang cukup untuk permainan terakhir. Aku menolak, karena aku sudah amat lelah. Mas Bowo mengatakan, kalau dia Cuma minta di sepong. Akhirnya aku turuti juga permintaan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita-erotis.com/mila-yang-aduhai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tia Yang Menawan</title>
		<link>http://cerita-erotis.com/tia-yang-menawan.html</link>
		<comments>http://cerita-erotis.com/tia-yang-menawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 18:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita-erotis.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Malam semakin larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami semakin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Bercanda, tertawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana. Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kami kembali menginjakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-18" style="margin: 10px 15px;" title="02" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/02.jpg" alt="02" width="310" height="243" />Malam semakin larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami semakin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Bercanda, tertawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana. Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kami kembali menginjakkan kaki di lobby hotel.”Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar tidak?” tanya Tia tiba-tiba.”Boleh aja, emang belum ngantuk?” tanyaku balik.”Tidak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur,” katanya memberi reasoning.Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4.</p>
<p>Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe.”Lha kamu sendiri di sini?” tanya saya begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya.”Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga,” jelasnya.”Tapi dia langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya.”Kami memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati secangkir coffemix panas.</p>
<p>Kursi sengaja kami balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang telah temaram dan <img class="alignright size-full wp-image-24" title="01a" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/01a.jpg" alt="01a" width="360" height="245" />senyap. Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan kami, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan. Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal baru beberapa jam kami berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin saya terlalu terbawa suasana.Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu. Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekat saya. Dan kini saya harus menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu.</p>
<p>Love.. look what you have done to her, bastard..!Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. Saya hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan. Saya mencoba menenangkannya sebisa saya dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.Setelah beberapa waktu kami membahasnya, Tia terlihat sudah agak tenang.”Thanks Ryo, kamu mau jadi tempat sampah Tia,” katanya sambil sedikit tersenyum.”That what friends are for,” jawab saya singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada saya, hehehe.. pamali tau..!Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-25" title="03" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/03.jpg" alt="03" width="360" height="247" />Hhmm.. enak juga duduk posisi seperti ini. Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi lesehan di sampingku.”Kayaknya enak banget lihat gaya kamu,” katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet.”Ryo, kamu itu aneh yah?” tiba-tiba suara Tia menyentakku.”Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?” tanya saya asal sambil menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu.”Hihihihi..” terdengar Tia cekikikan mendengarnya.”Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget,” katanya lagi.”Sampai Tia mau curhat sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru kenal.”&#8221;Sama, aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kami pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah?” jawab saya sambil nyengir.”Ada-ada aja kamu..” katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku.Jujur saja saya cukup terkejut menerima perlakuannya, tapi santai saja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak?Cukup lama kami masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya.</p>
<p>Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya:..I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you..Perlahan saya usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Tia mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kami saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini saya cari? Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama saya mencarinya entah kemana? How can I be so sure about that? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan. Yang saya tahu beberapa saat kemudian wajah kami semakin mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut bibirnya.Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih pinggang Tia dan mendudukkannya dalam pangkuan.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-26" title="04" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/04.jpg" alt="04" width="360" height="242" />Kini kami semakin dekat karena Tia saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan. Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibir ke arah lehernya. “Ugh..” hanya terdengar lenguhan lembut seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya bibir saya menjelajahi lehernya. Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan. Tia justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan. Saya pun semakin terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku. “Ryo.. oohh..” lenguh Tia saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemejanya. Ya.. saya memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuan saya kepadanya.Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami. Dengan sekali gerakan, saya dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri dengan Tia dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-27" title="03c" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/03c.jpg" alt="03c" width="360" height="255" />Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih. Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat saya berhasil melepaskan bra-nya. Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She’s different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang, yah mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan keberadaannya.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-28" title="05" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/05.jpg" alt="05" width="360" height="250" />Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Tia bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best!Terdengar lagi lenguhan Tia saat saya mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. Saya meneruskan cumbuan saya ke arah perutnya, hingga pada akhirnya berhasil membebaskan celana panjangnya ke karpet. Sekarang terpampang pemandangan yang tidak mungkin saya lupakan, seorang Tia yang baru saya kenal hari ini, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam. Untuk pertama kalinya saya memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini tidak dengan nafsu yang menguasai. Begitu terasa bagaimana saya memang menyayangi dan menginginkannya.</p>
<p>Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus saya cari selama ini dari diri seorang wanita.Kini saya mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan saya mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh Tia. Terdengar sedikit nada terkejut Tia saat saya mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, saya mulai menurunkan jilatan ke arah selangkangannya. “Ryo.. mau ngapain.. uugghh..” pertanyaan yang coba diajukan Tia tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di organ kewanitaannya. Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang saya usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Tia semakin terbakar. “Ohh.. Ryoo..” lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.Hisapan dan jilatan silih berganti saya lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Tia seperti mendekati puncaknya. “Aaahh..” jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.Kini saya memandang wajahnya.<img class="alignleft size-full wp-image-29" title="06" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/06.jpg" alt="06" width="360" height="252" /></p>
<p>Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri dan tangannya yang mencengkram seprai di tepian ranjang dengan kencang serta nafasnya yang tidak beraturan cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Tia terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya. Saya biarkan Tia meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya untuk menyibukkan diri mencari sebuah benda yang “lubricated with nonoxynol 9, for greater protection” (If you were a great 17tahun2 fan, you should know this thing) yang selalu disisipkan di dompetku (my friend said that only bastards always bring this thing around. Yeah.. maybe I’m the one of them).Tia baru membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir organ kewanitaannya. Dibukanya matanya memandang lembut ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. “Tia, may I..?” bisikku sambil mengecup keningnya. Tia hanya mengedipkan kedua matanya sekali sambil tetap memandangku. That’s enough for me to know the answer of this question. Perlahan-lahan saya tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth.</p>
<p>Terdengar nafas Tia tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang dilakukanku terhadapnya, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan hati) kami berdua. Saya kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah percintaan yang sangat indah. Saya masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat di sisi tepi ranjang saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.Entah berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Tia mulai mendekati orgasme keduanya.</p>
<p>Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya. Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. Saya pun meningkatkan kecepatan penetrasi untuk membantunya mendapatkan puncak kedua kalinya. “Eeegghh.. Ryoo.. aahh..” jerit Tia tertahan mencoba menyebut namaku saat gelombang orgasme keduanya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam.Saya menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua. Saya hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada akhirnya Tia mulai membuka matanya.”You’re so lovely tonight”, bisikku padanya.”Ryoo.. eh..!” teriaknya sedikit terkejut saat tiba-tiba saya menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkannya dalam pangkuanku.<img class="alignright size-full wp-image-30" title="11" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/11.jpg" alt="11" width="360" height="252" /></p>
<p>Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman. Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat kudengar erangan lirihnya saat Tia merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.Kali ini kubiarkan Tia memegang kendali. Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Tia memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Saya hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batangku terasa makin dalam menghujamnya. Ahh.. sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim.</p>
<p>Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. Ughh.. It’s really a loveable thing to see.Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, saya ras saya akan sampai puncaknya, pikir saya. “Ryoo.. I’m almost there..” bisik Tia lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku. “Yes.. babe, me too..” jawabku sambil mengecup erat bibirnya. Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya. “Aaahh.. Ryoo..” jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.Saya <img class="alignleft size-full wp-image-31" title="12" src="http://cerita-erotis.com/wp-content/uploads/2009/07/12.jpg" alt="12" width="360" height="253" />masih sempat meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada akhirnya..”Tiaa.., aku keluaarr..!” teriakku sambil mendekap erat tubuhnya.Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar. Untung saya menggunakan kondom, masih sempat diriku berpikir di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi kenikmatan yang sangat dahsyat. Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita-erotis.com/tia-yang-menawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
