Tia Yang Menawan
Malam semakin larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami semakin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Bercanda, tertawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana. Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kami kembali menginjakkan kaki di lobby hotel.”Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar tidak?” tanya Tia tiba-tiba.”Boleh aja, emang belum ngantuk?” tanyaku balik.”Tidak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur,” katanya memberi reasoning.Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4.
Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang.
